Makna Simbolik Kutukan: Psikologi dan Trauma di Balik Dunia Jujutsu Kaisen
Jujutsu Kaisen bukan sekadar kisah tentang pertarungan antara manusia dan roh kutukan. Di balik setiap ledakan energi kutukan dan pertarungan mematikan, tersimpan refleksi mendalam tentang sisi gelap manusia: rasa takut, trauma, kebencian, dan penderitaan yang belum terselesaikan. Anime dan manga karya Gege Akutami ini berhasil menggabungkan horor psikologis dengan filsafat eksistensial, menampilkan dunia di mana kutukan lahir bukan dari luar, melainkan dari dalam jiwa manusia itu sendiri.
1. Konsep Dasar Kutukan: Manifestasi Emosi Negatif
Dalam dunia Jujutsu Kaisen, kutukan adalah bentuk energi negatif yang terwujud karena emosi manusia seperti rasa takut, benci, iri, dan dendam. Setiap manusia menghasilkan energi kutukan secara alami, tetapi hanya sedikit yang mampu mengendalikannya. Jika tidak dikendalikan, energi itu akan menumpuk dan membentuk roh kutukan—makhluk yang hidup dari penderitaan manusia.
Simbolisme ini mencerminkan gagasan bahwa penderitaan yang ditekan atau diabaikan dapat berubah menjadi kekuatan destruktif. Akutami seolah menegaskan bahwa manusia yang berusaha menutupi luka batin tanpa memahami atau menyembuhkannya justru berisiko melahirkan “kutukan” dalam bentuk perilaku, trauma, atau bahkan keputusasaan. Dunia Jujutsu Kaisen menjadi metafora besar bagi kesehatan mental manusia modern—penuh tekanan, namun jarang diberi ruang untuk mengakui luka-luka emosionalnya.
2. Yuji Itadori: Beban Moral dan Trauma Kehilangan
Yuji Itadori, protagonis utama, merupakan personifikasi empati dan tanggung jawab moral. Ketika ia menelan jari Sukuna dan menjadi wadah bagi “Raja Kutukan,” ia tidak hanya menanggung beban fisik, tetapi juga beban emosional dan eksistensial. Yuji berjuang antara dua kutub: keinginan untuk menyelamatkan orang lain dan rasa bersalah karena kematian yang selalu mengikutinya.
Dari perspektif psikologi, Yuji menghadapi trauma yang kompleks—ia terus hidup dengan kesadaran bahwa keberadaannya bisa menjadi ancaman. Rasa bersalah dan penderitaannya menciptakan siklus psikologis yang menggambarkan konsep “survivor’s guilt”. Kutukan Sukuna di dalam dirinya bukan hanya entitas eksternal, melainkan simbol dari sisi gelap manusia yang tak bisa dihapus, hanya bisa diakui dan dikendalikan.
3. Megumi Fushiguro: Kekuatan dari Kegelapan Diri
Megumi Fushiguro merepresentasikan konflik antara moralitas dan kekuatan batin. Ia menggunakan teknik bayangan (Ten Shadows Technique) yang secara simbolik menunjukkan hubungannya dengan sisi gelap dan bawah sadar. Bayangan melambangkan bagian diri yang tersembunyi, misterius, dan sering kali diabaikan—seperti konsep “shadow” dalam psikologi Jungian.
Dalam banyak adegan, kekuatan Megumi meningkat saat ia menghadapi rasa takut atau kemarahan yang selama ini ia pendam. Ini menggambarkan gagasan bahwa menghadapi sisi gelap diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan kunci menuju pertumbuhan psikologis. Akutami menegaskan melalui Megumi bahwa kekuatan sejati muncul ketika seseorang mampu menerima kompleksitas dirinya, bukan ketika ia berusaha menjadi sempurna.
4. Nobara Kugisaki: Identitas dan Resistensi terhadap Rasa Takut
Nobara Kugisaki adalah salah satu karakter yang menantang stereotip perempuan dalam anime shonen. Ia keras, jujur, dan tak ragu mengekspresikan emosinya. Namun di balik keberaniannya, Nobara juga menyimpan rasa takut terhadap penolakan dan kehilangan jati diri. Dalam pertempurannya melawan kutukan, Nobara tidak hanya melawan musuh eksternal, tetapi juga ketakutan internal untuk diterima sebagai dirinya sendiri.
Kutukan yang dihadapinya sering kali menjadi refleksi dari ketidakamanan dirinya. Ketika ia terluka parah dalam pertempuran, Nobara tetap memilih tersenyum—bukan karena tak merasa sakit, tetapi karena ia menolak membiarkan penderitaan mengendalikan dirinya. Ia mewakili bentuk kekuatan psikologis yang autentik: keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang penuh kegelapan.
5. Satoru Gojo: Paradoks Kesempurnaan dan Keterasingan
Satoru Gojo, penyihir terkuat di dunia, mencerminkan paradoks antara kekuatan absolut dan kesepian. Ia memiliki kemampuan luar biasa yang membuatnya hampir tak tersentuh, tetapi justru itulah yang menjauhkan dirinya dari orang lain. Gojo hidup dalam kesadaran konstan akan perbedaan antara dirinya dan manusia biasa—sebuah kondisi psikologis yang menyerupai “alienasi eksistensial”.
Secara simbolik, kekuatan “Infinity” miliknya dapat diartikan sebagai representasi batas emosional yang ia ciptakan agar tak terluka. Dunia tidak bisa menyentuh Gojo, baik secara fisik maupun emosional. Namun di sisi lain, itu membuatnya terperangkap dalam isolasi. Akutami seolah ingin menunjukkan bahwa kekuatan tanpa koneksi justru menjadi bentuk kutukan tersendiri.
6. Ryomen Sukuna: Manifestasi Dewa dan Iblis dalam Jiwa Manusia
Sukuna, “Raja Kutukan”, bukan hanya antagonis utama, tetapi juga simbol dari sisi paling gelap dalam diri manusia. Ia tidak semata jahat karena haus darah, melainkan karena mewakili kebebasan absolut dari moralitas dan empati. Dalam mitologi dan psikologi, sosok seperti Sukuna mencerminkan arketipe “shadow god” — kekuatan destruktif yang tetap bagian dari keseimbangan kosmik.
Relasi antara Sukuna dan Yuji dapat dibaca sebagai alegori hubungan antara kesadaran dan bawah sadar. Yuji berusaha menekan Sukuna, tetapi tidak bisa menghapusnya. Ini menunjukkan bahwa kegelapan batin bukanlah sesuatu yang bisa dimusnahkan, melainkan harus dihadapi dan dipahami. Sukuna menjadi simbol abadi dari fakta bahwa manusia menyimpan potensi destruktif yang tak bisa diabaikan.
7. Dunia Kutukan sebagai Cermin Masyarakat Modern
Dunia dalam Jujutsu Kaisen adalah dunia yang terus-menerus menghasilkan kutukan baru, karena manusia tak pernah berhenti merasa takut, cemas, dan menderita. Ini bisa dibaca sebagai kritik sosial terhadap dunia modern—di mana stres, kesepian, dan tekanan sosial menjadi kutukan kontemporer yang nyata. Kutukan dalam serial ini berfungsi sebagai metafora bagi penyakit mental seperti depresi, kecemasan, dan trauma kolektif.
Gege Akutami tidak menggurui penonton untuk menjadi “baik” atau “bahagia”. Ia justru mengajak untuk mengakui keberadaan rasa sakit itu sendiri. Dalam dunia yang menuntut kesempurnaan, Jujutsu Kaisen menjadi karya yang menegaskan pentingnya menerima sisi gelap kehidupan sebagai bagian dari keberadaan manusia. Kutukan tidak akan pernah lenyap sepenuhnya—tetapi pemahaman terhadapnya membuat manusia lebih kuat.
8. Trauma dan Penyembuhan dalam Dunia Jujutsu
Banyak karakter dalam Jujutsu Kaisen membawa trauma masa lalu yang menjadi sumber kekuatan maupun penderitaan. Nanami Kento, misalnya, adalah sosok yang meninggalkan kehidupan korporat karena kehilangan makna hidup. Trauma eksistensialnya membuatnya mencari tujuan baru, dan dalam dunia Jujutsu, ia menemukan bentuk penyembuhan: membantu orang lain agar tak mengalami penderitaan serupa.
Demikian pula dengan Maki Zenin, yang hidup di bawah tekanan keluarga bangsawan Jujutsu. Ia melawan sistem patriarki dan diskriminasi kekuatan dengan tekad yang lahir dari luka. Maki membuktikan bahwa trauma tidak selalu menjadi akhir; kadang justru menjadi titik awal transformasi. Di sinilah Jujutsu Kaisen memperlihatkan bahwa penyembuhan bukan berarti menghapus luka, tetapi belajar hidup berdampingan dengannya.
9. Pesan Filosofis: Mengakui Kegelapan sebagai Jalan Menuju Kemanusiaan
Jika ditarik ke ranah filosofis, pesan utama Jujutsu Kaisen adalah tentang rekonsiliasi antara terang dan gelap dalam diri manusia. Kutukan bukan hanya ancaman eksternal, melainkan refleksi dari konflik batin yang tak terselesaikan. Dunia ini tidak membagi kebaikan dan kejahatan secara mutlak—semuanya lahir dari konteks dan pengalaman masing-masing individu.
Dalam pandangan eksistensialis, penderitaan adalah bagian tak terhindarkan dari hidup. Dengan menerima penderitaan itu, manusia justru menemukan makna. Hal inilah yang dijabarkan Jujutsu Kaisen melalui kisah-kisah tragis para karakternya: mereka yang berani menghadapi kutukan dalam diri adalah mereka yang benar-benar hidup.
Kesimpulan
Jujutsu Kaisen bukan sekadar kisah aksi dan kekuatan supranatural; ia adalah refleksi tajam tentang psikologi manusia dan kompleksitas emosi yang menyertainya. Kutukan dalam serial ini melambangkan beban batin yang diabaikan, luka yang tak sembuh, dan sisi gelap yang sering kita tolak. Namun justru dalam pengakuan terhadap kegelapan itulah, karakter-karakter Jujutsu Kaisen menemukan makna dan kekuatan sejati mereka.
Gege Akutami dengan brilian memadukan unsur horor, tragedi, dan filsafat menjadi narasi yang relevan dengan dunia modern—di mana trauma dan tekanan sosial menjadi realitas yang tak bisa dihindari. Melalui simbolisme kutukan, Jujutsu Kaisen mengajarkan bahwa penyembuhan dimulai dari kesadaran akan penderitaan itu sendiri. Kita semua memiliki “kutukan” masing-masing, tetapi dengan memahami dan berdamai dengannya, kita bisa menjadi lebih manusiawi.

Komentar
Posting Komentar